![]() |
| Sumber: Ina Baswara |
Apa yang manusia harapkan dari sebuah harinya?, bangun dan tertawa?, secangkir kopi dan sarapan dari orang spesial?.
Kemudian apa yang semestinya mereka lakukan?, duduk di teras rumah?, berjalan di tengah hujan?, atau berlari dikerumuman manusia lainnya?.
Bukankah kita mulai berpikir lagi, untuk apa sebenarnya sunyi diciptakan, dan ramai di indahkan?, manusia mencari keramaian sebagai pelampiasan diri mereka yang tengah terbalut dalam emosi, manusia terkapar dalam sunyi sebagai manifestasi dari rasa lelah tiap hari, namun sadarkah jika waktumu untuk meratapi sunyi dan ramai adalah salah satu cara untuk membuang waktu itu sendiri.
Mungkin keadaan memaksa kita berperan dengan berbagai topeng, beragam tingkah, dan bermacam watak, tapi sadar atau tidak sadar, hal itu secara perlahan memaksa kita untuk mati ditangan kita sendiri.
Apa yang manusia harapkan dari dirinya?, cinta seseorang saja terkadang diluar kendali, bahkan mengambil alih isi pikiran, lantas apa yang manusia harapkan dari dirinya?.
Oke, Kita sambung satu per satu, sejatinya manusia mencari dirinya sendiri, dengan harap besar ia dapat menemukan versi dirinya yang terbaik, manusia terbangunkan oleh ramai dunia, namun diistirahatkan oleh kesunyian, sebagai bentuk dari rasa tenang, ia berjalan hari demi hari, untuk kembali ke bagian pertama, yaitu mencari dirinya sendiri dalam versi terbaiknya, namun perlu diingat, terkadang manusia dihadapkan pada situasi memakai topeng bermacam-macam, dan hanya diri mereka sendiri yang tahu.
![]() |
| Sumber: Ina Baswara |
Dan itulah kita, sebagaimana semestinya makhluk hidup, berjalan dan berjalan, biarkan semua berlalu dengan semestinya, cukup dirimu simpan untuk pelajaran, bukan untuk diulang, masalah hari ini akan usai, dan akan bertemu masalah selanjutnya, yang artinya masalah hari ini pasti akan selesai, kemudian dihadapkan dengan masalah berikutnya yang pasti akan selesai juga, sekarang bangun, dan bangunlah yang seharusnya dirimu bangun.
![]() |
| Sumber: Ina Baswara |
Aku adalah permainan
Yang dimainkan oleh diriku sendiri
Aku adalah titahku sendiri
Yang luntur sebagaimana hujan basahi bumi
Aku adalah aku
Yang kau tahu adalah bagian kecilku
Aku adalah kamu
Yang kau tahu adalah bagian dariku untukmu.
Biarkan sejenak kita berbincang pada Tuhan
Dengan kopi dan perbincangan tentang luka dan asa
Bukan tentang siapa dan bagaimana
Namun tentang kita sebagai manusia.



0 Komentar